Memaafkan tanpa melemahkan
Mungkin kita sering mendengar kalimat “memaafkan itu lebih sulit dari pada meminta maaf“, bahkan istilah inggris mengatakan “Forgive is to forget“, memaafkan berarti melupakan kesalahan orang. Pada kenyataannya banyak orang yang berkata pada saat memaafkan “saya maafkan semua kesalahan kamu tapi saya ga akan pernah lupa rasa sakit hati saya“. Apakah itu memaafkan?
Tentunya dalam hidup kita pasti, pernah, bahkan sering mengalami kekecewaan dan sudah pasti akan berkaitan dengan reaksi emosional kita. Seorang ahli agama atau ahli dibidang emosi sekalipun pasti pernah kecewa, tetapi mereka dapat dengan baik mengelola, memfilter dan akhirnya memilih respon terbaik dari rasa kecewa tersebut sehingga menjadi sebuah energi positif.
Kenapa saya bilang semua orang pernah mengalami kekecewaan? karena secara lahiriah manusia diberikan rasa keinginan/passion, entah itu keinginan dihargai, dicintai, dipercaya dan maih banyak lagi. Dan rasa kekecewaan tersebut sepenuhnya terjadi karena hubungan pribadi diri kita dengan orang disekitar kita, baik itu pasangan hidup, orang tua, anak atau teman. Termasuk bila kita mengalami kekecewaan terhadap Sang Pencipta ujung-ujungnya kalau diurut karena rasa kecewa yang terjadi dari hubungan kita dengan orang lain, seperti orang yang kita sayangi meninggal.
Kekecewaan apa yang terbesar dalam hidup Anda sampai mati pun Anda tidak pernah akan memaafkan?
Mungkin Anda pernah dikhianati pasangan Anda, trauma masa kecil yang diperlakukan dengan buruk, atau anak Anda pernah memutuskan harapan Anda sehingga Anda bersumpah sampai mati pun Anda tidak akan pernah memaafkan. Kalau yang punya salah pada Anda tidak mau minta maaf dan tidak pernah merasa salah itu lain persoalan. Tapi bagaimana bila orang yang telah mengecewakan Anda telah meminta maaf dan selalu berusaha untuk berubah dan menunjukan rasa penyesalan telah mengecewakan Anda?
Yang lebih parah adalah bagaimana bila yang terjadi adalah Anda sudah sering memaafkan kesalahan orang tersebut tapi berkali-kali juga kekecewaan berulang malah makin parah lebih dari yang pernah Anda bayangkan dan sekali lagi orang tersebut meminta maaf?
Sampai pada titik Anda berkata “Maaf, maaf saya sudah habis stoknya buat kamu”
Disisi lain mungkin Anda akan berpendapat bahwa semakin saya memaafkan maka semakin besar kesalahan yang akan orang tersebut perbuat. Karena mungkin saja orang tersebut akan merasa “Gampanglah kalau saya buat salah yah tinggal minta maaf, selesai. Dia selalu memaafkan saya kok“. Inilah yang terkadang terjadi, memaafkan justru dianggap lemah. Dan memaafkan menjadi melemahkan bagi si pemberi maaf. Apakah Anda setuju? Bila Anda setuju silahkan tunjuk tangan. Maksud saya bila setuju berarti Anda satu pemikiran dengan saya tapi dalam skala kecil. Ingat dalam skala kecil.
Mengapa saya bilang dalam skala kecil?
skala kecil bila kita memandang hidup hanya diri kita, rasa kecewa dan orang yang telah mengecewakan kita. Pada kenyataannya dunia ini luas, buktinya siapa yang mau mencoba jalan kaki keliling dunia untuk membuktikan bahwa dunia tempat kita hidup itu kecil? Bila Anda mau, silahkan.. saya bantu doa aja.
Bayangkan bila ada orang lain ternyata yang mengetahui masalah kita tanpa kita pernah memberitahu orang tersebut, dan orang-orang sekitar kita mengetahui bahwa kita bisa memaafkan maka sudah tentu orang yang mengetahui kebesaran hati kita akan memberikan penilaian yang baik terhadap kita. Kalau pun tidak ada satu pun orang yang mengetahui tuhan pasti mengetahui, kalau Anda tidak percaya tuhan, alam semesta ini pasti tau. Dan hukum alam itu selalu melekat pada apa yang ada di alam ini, termasuk saya, Anda, bahkan komputer yang Anda gunakan untuk membaca tulisan saya, semunya berjalan karena hukum alam. Begitu juga bila Anda telah berbuat baik termasuk memaafkan sesuatu yang sebenarnya mungkin bagi orang lain bahkan bagi orang yang telah berbuat salah kepada Anda pun tidak akan pernah bisa memaafkan kesalahan tersebut. Tapi Anda memutuskan untuk memaafkan, maka saat itu pula alam semesta/tuhan sedang memberikan Anda suatu hadiah didepan sana, karena kita telah memberikan sesuatu yang besar yaitu “memaafkan” maka kita pasti akan diberikan sesuatu. Alam semesta selalu adil, pada saat kita memberikan sesuatu baik atau buruk maka kita akan selalu mendapat lebih dari apa yang kita berikan. Jadi bila menurut Anda tidak memaafkan adalah baik, silahkan tunggu apa yang terjadi.
Ada istilah “maaf dan sabar itu ada batasnya“, faktanya batasan itu kita buat sendiri kok. Dan ingat salah satu prinsip NLP(dibahas lebih lanjut pada tulisan berikutnya):
“Semua kejadian bersifat netral, tidak ada artinya sampai kita memberikan arti sendiri”
Jadi saat Anda diperlakukan buruk bahkan oleh seseorang yang sangat Anda sayangi, Anda otomatis memberikan arti bahwa orang tersebut tidak mencintai Anda, tidak perduli, dan banyak hal lainnya yang negatif(dan Anda akan mudah menemukan ratusan bahkan ribuan hal negatif lainnya karena emosi Anda mengarah negatif). Tapi bila kita memberikan emosi positif seperti mungkin orang tersebut mau saya lebih mencintainya atau mungkin dulu saya pernah berbuat salah, atau yang lebih besar lagi adalah mungkin alam semesta ingin memberikan saya sebuah hadiah yang sangat besar bila saya mau memberikan sesuatu yang besar yaitu “memaafkan”.
April 14th, 2010 at 11:40
‘maaf’ sebuah kata yang umum namun terkadang sulit utk di lakukan
meminta maaf aja sulit, memaafkan jauh lebih sulit
thx for visit sis
April 28th, 2010 at 10:44
owh selalu seperti biasa
memaafkan itu mudah
melupakan yang sulit
cheeerzzzzzzzzz imaaaaaaaaaaaan ;D
April 28th, 2010 at 12:12
bagi saya maaf tidak ada batasnya, karena hanya kita yang membuat ruang hati kita besar atau kecil.
bagi saya ruang hati saya seluas samudra, mungkin saat samudera mengering lah ruang hati akan berkata tidak ada maaf untukmu